Seharusnya lembaga-lembaga survei tidak hanya berbicara metodologi sempit sebatas margin of error dalam hitung cepat Pilpres lalu. Tetapi, lembaga survei harus lebih jauh menjelaskan keterwakilan sampel atas populasi.
Lembaga-lembaga survei harus menjelaskan berapa sampel TPS yang diambil dari masing-masing wilayah, berapa pemilih nomor 1 dan 2 di masing-masing TPS. Jika perlu, sebutkan satu persatu TPS mana saja yang dijadikan sampel.
Demikian disampaikan Pengajar Metodologi Statistik, Ayat Hidayat atau Hidayat Huang, yang meluruskan mengenai margin of error karena perdebatan para "ahli" quick count banyak berkisar pada berapa persen margin of error. Penjelasan Hidayat juga sudah ia tuangkan di halaman kompasiana.
"Lembaga survei jangan memperkeruh suasana dan membodohi masyarakat dengan menyajikan angka yang tiba-tiba muncul dari langit tanpa menjelaskan secara detail dari mana angka tersebut muncul. Bahkan mengklaim bahwa hasil quick count yang paling benar dibandingkan hasil KPU sekalipun. Konyol," kata Hidayat.
Masyarakat harus lebih memahami bahwa hasil quick count adalah hasil penghitungan sebagian TPS, bukan keseluruhan TPS. Kita harus memaklumi itu dan membuka ruang kemungkinan salah.
"Tentu hasil penghitungan KPU-lah yang paling benar dan mengikat, yang pasti margin of error-nya nol. Jangan sampai kita tergiring opini dengan terlalu dini mengatakan salah satu pasangan menang menjadi presiden," tegasnya.
Dia berharap masyarakat lebih cerdas dan tidak mudah tergiring opini. Masyarakat yang cerdas adalah masyarakat yang mampu membedakan mana opini dan mana fakta
SUMBER: http://politik.rmol.co/read/2014/07/11/163407/Masyarakat-Diajak-Lebih-Cerdas-Menyimak-Kekonyolan-Lembaga-Survei-
Home »
Politik Dan Hukum
» Masyarakat Diajak Agar Bersikap Lebih Cerdas Dalam Menyimak Kekonyolan Hasil Survei
Masyarakat Diajak Agar Bersikap Lebih Cerdas Dalam Menyimak Kekonyolan Hasil Survei
Written By Wes lee on Friday, July 11, 2014 | 12:28 AM
Related Articles
Labels:
Politik Dan Hukum

0 comments:
Post a Comment