Ikhwanul Muslimin menyebut korban tewas di Mesir hingga 2.200 orang.
Boja- realifactpost.com Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa prihatin melihat situasi politik di Mesir yang terus memburuk. Bentrokan mematikan bahkan kembali terjadi Rabu siang kemarin, 14 Agustus 2013, akibat tindakan represif tentara pemerintah yang ingin membubarkan pendudukan kelompok pendukung mantan Presiden Muhammed Mursi.
“Kami sangat prihatin dengan memburuknya situasi di Mesir. Penggunaan kekerasan yang menyebabkan jatuhnya korban tewas bukan solusi dari permasalahan,” kata Marty melalui keterangan tertulis Kemlu yang diterima VIVAnews. Menurut Marty, penggunaan aksi kekerasan malah memperkeruh suasana.
Marty meminta kepada masyarakat internasional untuk terus mendukung upaya rekonsiliasi di antara berbagai pihak di Mesir, serta mendorong diakhirinya berbagai tindak kekerasan di negara itu. Seruan serupa juga dikeluarkan oleh berbagai pemimpin dunia lain seperti Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Catherine Ashton, dan Presiden Turki Abdullah Gul.
Sementara untuk situasi Warga Negara Indonesia di Mesir, hingga saat ini mereka masih dalam keadaan aman. Konsuler KBRI Mesir Nugroho Aribhimo mengatakan pihaknya belum menerima laporan adanya WNI yang menjadi korban atau terkena dampak fisik dari bentrokan.
“Memang sebelumnya ada empat mahasiswa yang tempat tinggalnya persis di dekat Masjid Rabiah al-Adawiya. Mereka sudah dievakuasi, tapi malah kembali lagi ke situ,” kata Nugroho. KBRI akan meminta bantuan pemerintah setempat untuk mengeluarkan keempat mahasiswa itu dari sana. Menurut data Kemlu, saat ini jumlah WNI yang masih berada di Mesir sekitar 5.130 orang, dengan mayoritas pelajar.
Sebelumnya pemerintah Indonesia telah mengeluarkan imbauan perjalanan (travel advisory) bagi WNI yang ingin berkunjung ke Mesir. Marty tidak ingin terburu-buru merepatriasi WNI dari Mesir karena masih ingin melihat perkembangan situasi di sana.
“Kami terus mengevaluasi situasi di sana. Indonesia juga sering merasakan pengalaman serupa ketika kita mengalami suatu masalah lalu negara lain mengeluarkan travel advisory. Rasanya kurang pas sehingga kami tidak akan terburu-buru menarik dan mengevakuasi WNI,” kata Marty.
Pihak KBRI di ibu kota Kairo terus mengimbau kepada WNI di sana agar menghindari kumpulan massa dan tidak ikut turun ke jalan untuk berdemonstrasi. Hingga saat ini situasi di Mesir masih berkecamuk.
Presiden sementara Mesir Adly Mansour menetapkan situasi darurat di negaranya selama satu bulan ke depan. Selain itu jam malam kini diberlakukan mulai pukul 07.00 malam hingga 07.00 pagi di Kairo dan 10 provinsi lainnya.
Total korban tewas akibat bentrok kemarin menurut data Kementerian Kesehatan Mesir mencapai 149 orang, namun kelompok Ikhwanul Muslimin menyebut korban tewas hingga 2.200 orang.
Sumber: © VIVA.co.id
0 comments:
Post a Comment